Setelah mempelajari falsafah samurai sebagai perbandingan,Maka ini adalah falsafah utama seorang musli.
Orang-Orang Beriman Dan “Sami’na wa Atho’na“
بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :
صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :
Allah سبحانه و تعالي berfirman :
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan : “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa) : “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Qs.Al-Baqarah : 285)
Dalam ayat di atas, Allah سبحانه و تعالي menggambarkan tentang orang-orang beriman yang bersama dengan Rasulullah, di mana mereka telah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka (orang-orang yang beriman) senantiasa mengatakan سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا (”…kami dengar dan kami taat…”).
Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan : “Yakni mendengar firman-Mu, ya Tuhan kami, dan kami memahaminya; Dan kami menegakkan serta mengerjakan amal sesuai dengannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 Qs.Al-Baqarah:285).
Mendengar apa yang difirmankan Allah dan memahaminya, lalu mengerjakan apa yang diajarkan atau diserukan di dalam firman Allah tersebut, adalah karakter orang-orang yang beriman. Karakter ini telah lekat, dan banyak disebut di dalam ayat-ayat Al-Qur’an, karena itu fenomena “mentaati apa yang didengar“ akan senantiasa terlihat di kalangan orang-orang yang mempunyai cap “beriman”. Sebaliknya, hal ini tidak akan terlihat di kalangan orang-orang yang mempunyai cap “kafir”, karena orang-orang kafir tidak mungkin mentaati apa yang difirmankan oleh Allah سبحانه و تعالي .
Berikut adalah gambaran fenomena tersebut pada sekelompok orang yang mengakui bahwa hanya merekalah orang-orang yang beriman, di mana komitmen “kami dengar dan kami taat” memang tampak sangat ‘kelihatan’ ada pada aktifitas mereka yang penuh dengan kerja-kerja yang besar dalam rangka mengikuti Rasul. Inilah sedikit uraiannya.
Sami’na wa atho’na di hari jum’at
Allah سبحانه و تعالي berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu sekalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs.Al-Jumu’ah : 9)
Setelah mendengar ayat ini, merekapun tahu dan mengakui bahwa sholat jum’at hukumnya adalah wajib, maka mereka segera melaksanakan apa yang diserukan oleh Allah di dalam ayat itu.
Sebagian dari mereka ada yang segera pergi ke pinggiran lapangan golf yang tidak aktif, di mana di situ tidak ada orang yang lalu-lalang, sangat sepi. Hanya burung-burung emprit dan kadang sesekali ada kampret melintas di atas kepala-kepala mereka. Mereka menjalankan perintah Allah dalam Qs.Al-Jumu’ah ayat 9 di situ dengan penuh ‘ke-khusyu’an’, yaitu dengan mengobrol ngalor dan ngidul, merokok, berkelakar, bengong, mengorek-ngorek kotoran hidung (ngu-phil), dan lain-lain, sesuai dengan kreatifitas masing-masing orang.
Sebagian lagi dari mereka yang berada di tempat lain, ketika mendengar seruan untuk sholat jum’at, maka mereka bergegas “sami’na wa atho’na” (kami dengar dan kami taat) yaitu dengan bersegera bersama-sama pergi menuju kolong jembatan, di mana di situ tidak ada orang yang lalu-lalang, sangat sepi. Hanya serangga-serangga liar dan kadang sesekali ada kodok buduk melintas di antara kaki-kaki mereka. Merekapun menjalankan perintah Allah dalam Qs.Al-Jumu’ah ayat 9 di situ dengan penuh ‘ke-khusyu’an’ sebagaimana saudara-saudara seiman mereka yang lainnya, yang menjalankannya di pinggir lapangan golf.
Sebagian lagi dari mereka mencari kebun-kebun atau tanah-tanah kosong yang sepi dari manusia, dan sebagian lagi yang lain ada yang berdiam di rumah-rumah mereka, tidak keluar rumah hingga orang-orang ‘kafir-munafik’ selesai melaksanakan sholat jum’at di mesjid-mesjid dhirornya.
Sebagian dari mereka ada yang segera pergi ke pinggiran lapangan golf yang tidak aktif, di mana di situ tidak ada orang yang lalu-lalang, sangat sepi. Hanya burung-burung emprit dan kadang sesekali ada kampret melintas di atas kepala-kepala mereka. Mereka menjalankan perintah Allah dalam Qs.Al-Jumu’ah ayat 9 di situ dengan penuh ‘ke-khusyu’an’, yaitu dengan mengobrol ngalor dan ngidul, merokok, berkelakar, bengong, mengorek-ngorek kotoran hidung (ngu-phil), dan lain-lain, sesuai dengan kreatifitas masing-masing orang.
Sebagian lagi dari mereka yang berada di tempat lain, ketika mendengar seruan untuk sholat jum’at, maka mereka bergegas “sami’na wa atho’na” (kami dengar dan kami taat) yaitu dengan bersegera bersama-sama pergi menuju kolong jembatan, di mana di situ tidak ada orang yang lalu-lalang, sangat sepi. Hanya serangga-serangga liar dan kadang sesekali ada kodok buduk melintas di antara kaki-kaki mereka. Merekapun menjalankan perintah Allah dalam Qs.Al-Jumu’ah ayat 9 di situ dengan penuh ‘ke-khusyu’an’ sebagaimana saudara-saudara seiman mereka yang lainnya, yang menjalankannya di pinggir lapangan golf.
Sebagian lagi dari mereka mencari kebun-kebun atau tanah-tanah kosong yang sepi dari manusia, dan sebagian lagi yang lain ada yang berdiam di rumah-rumah mereka, tidak keluar rumah hingga orang-orang ‘kafir-munafik’ selesai melaksanakan sholat jum’at di mesjid-mesjid dhirornya.
Inilah ajaran dari wahyu Allah yang sedang mereka laksanakan, dan inilah “kerja-kerja” Rasul yang sedang mereka contoh. Mereka mengharapkan dengan menjalankan ‘kerja-kerja Islam sebagaimana yang Rasul lakukan’ ini akan mendapatkan ridho dari Allah dan beroleh pahala yang besar di sisi-Nya dan akan masuk ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi….
Pemimpin mereka senantiasa mengajarkan : “Jika menginginkan surga, inginkanlah surga yang tertinggi, yaitu surga Firdaus.”
Allahu Akbar…..
Pemimpin mereka senantiasa mengajarkan : “Jika menginginkan surga, inginkanlah surga yang tertinggi, yaitu surga Firdaus.”
Allahu Akbar…..
Sementara itu, orang-orang yang dikatakan ‘kafir’, pada hari jum’at sudah mempersiapkan diri sebelum adzan berkumandang, yaitu dengan mandi dan mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, dan bersiap-siap pergi ke masjid di mana sholat jum’at diserukan. Namun, yang seperti itu tidaklah dikatakan mengikut “kerja-kerja Rasul”, bahkan dikatakan bahwa yang seperti itu hanyalah kerja-kerja orang-orang ‘kafir’ yang tidak faham Qur’an….
Jika seseorang itu betul-betul beriman dan telah faham Qur’an, pastilah ia akan mencari tempat yang sepi setiap hari jum’at di tengah hari, sebab beginilah kerja-kerja Rasul ketika daulah Islam belum tegak, beginilah kerja-kerja para sahabat Nabi, dan beginilah kerja-kerja orang-orang sholih terdahulu yang menjadi panutan ummat.
Jika tidak seperti ini, itulah pendusta ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak “sami’na wa atho’na”, itulah orang-orang ‘kafir’…
Jika seseorang itu betul-betul beriman dan telah faham Qur’an, pastilah ia akan mencari tempat yang sepi setiap hari jum’at di tengah hari, sebab beginilah kerja-kerja Rasul ketika daulah Islam belum tegak, beginilah kerja-kerja para sahabat Nabi, dan beginilah kerja-kerja orang-orang sholih terdahulu yang menjadi panutan ummat.
Jika tidak seperti ini, itulah pendusta ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak “sami’na wa atho’na”, itulah orang-orang ‘kafir’…
Inna Lillaahi wa inna ilaihi rojiuun…
Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada orang-orang yang masih mempunyai i’tikad kebaikan,
Sesungguhnya segala petunjuk dan hidayah hanyalah dari Allah سبحانه و تعالي .
Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada orang-orang yang masih mempunyai i’tikad kebaikan,
Sesungguhnya segala petunjuk dan hidayah hanyalah dari Allah سبحانه و تعالي .
Sami’na wa atho’na untuk bersilaturrahim
Allah سبحانه و تعالي berfirman :
واتقوا الله الذى تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرحام…
“Dan bertaqwalah kepada Allah Yang dengan (nama)Nya kamu saling meminta satu-sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.” (Qs.An-Nisaa : 1)
Dan Allah سبحانه و تعالي juga berfirman :
وَ الَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَهُمُ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَ يَخَافُونَ سُوءَ اْلحِسَابِ
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yakni silaturrahim) dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Qs.Ar-Ra’d : 21)
Setelah mendengar ayat-ayat ini, merekapun tahu bahwa menyambung silaturrahim adalah wajib, maka mereka pun melaksanakan ayat tersebut, yaitu dengan memutus hubungan kekerabatan terhadap orang-tua, keluarga atau sanak famili mereka.
Silaturrahim mereka artikan : shilla berarti sambungan, rahiim berarti kasih sayang. Jadi, silaturrahim adalah sambungan kasih sayang, di mana hanya ada di antara orang-orang yang ‘beriman’.
Tidak ada kasih sayang terhadap orang-orang kafir, karena itu silaturrahim pun tidakBOLEH
ada terhadap orang-orang kafir, harus diputus….
Orang-orang yang tidak belajar Qur’an, mereka adalah orang-orang ‘kafir’, yaitu kafir terhadap ayat-ayat Allah karena tidak percaya terhadap ayat-ayat Qur’an. Bukti bahwa orang-orang itu tidak percaya terhadap Qur’an (kafir) adalah tidak maunya mereka untuk belajar Qur’an dengan benar kepada orang-orang beriman yang faham Qur’an (yaitu mereka). Karena itu siapapun yang tidak belajar Qur’an kepada mereka adalah ‘kafir’, termasuk keluarga ataupun ibu-bapak sendiri. Maka tidak ada kasih sayang dan tidak ada silaturrahim terhadap orang-orang kafir.
Ibu-bapak yang ‘kafir’ tidak perlu dijenguk, ditengok, diperhatikan, karena tidakBOLEH
ada kasih sayang terhadap mereka.
Orang-tua yang kesusahan, biarlah mereka kesusahan sebagai adzab dari Allah.
Orang-tua yang sakit, biarlah dia sakit, sekarat, ataupun mati sekalian, karena orang-orang beriman yang imannya baik tidak akan berkasih-sayang dengan orang-orang kafir, siapapun dia.
Silaturrahim mereka artikan : shilla berarti sambungan, rahiim berarti kasih sayang. Jadi, silaturrahim adalah sambungan kasih sayang, di mana hanya ada di antara orang-orang yang ‘beriman’.
Tidak ada kasih sayang terhadap orang-orang kafir, karena itu silaturrahim pun tidakBOLEH
ada terhadap orang-orang kafir, harus diputus….Orang-orang yang tidak belajar Qur’an, mereka adalah orang-orang ‘kafir’, yaitu kafir terhadap ayat-ayat Allah karena tidak percaya terhadap ayat-ayat Qur’an. Bukti bahwa orang-orang itu tidak percaya terhadap Qur’an (kafir) adalah tidak maunya mereka untuk belajar Qur’an dengan benar kepada orang-orang beriman yang faham Qur’an (yaitu mereka). Karena itu siapapun yang tidak belajar Qur’an kepada mereka adalah ‘kafir’, termasuk keluarga ataupun ibu-bapak sendiri. Maka tidak ada kasih sayang dan tidak ada silaturrahim terhadap orang-orang kafir.
Ibu-bapak yang ‘kafir’ tidak perlu dijenguk, ditengok, diperhatikan, karena tidakBOLEH
ada kasih sayang terhadap mereka.Orang-tua yang kesusahan, biarlah mereka kesusahan sebagai adzab dari Allah.
Orang-tua yang sakit, biarlah dia sakit, sekarat, ataupun mati sekalian, karena orang-orang beriman yang imannya baik tidak akan berkasih-sayang dengan orang-orang kafir, siapapun dia.
Sementara itu, orang-orang yang mereka katakan ‘kafir’ tidak memahami seperti itu, tetapi memahami bahwa silaturrahim adalah tali kekerabatan atau tali kekeluargaan, sebagaimana pemahaman para ulama salaf.
Silaturrahim yang diartikan menyambung tali kekeluargaan atau tali kekerabatan oleh para ahli bahasa dan oleh para ulama salaf dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqh semisal Imam An-Nawawi atau al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqollani (lihat tulisan : “Silaturrahim”), dianggap tidak tepat.
Sesungguhnya para ahli bahasa, ahli hadits dan ahli fiqh Islam baik dari kalangan ulama salaf ataupun dari kalangan ulama muta’akhirin, semuanya adalah orang-orang yang tidak faham Qur’an. Mengambil ilmu tidakBOLEH
dari orang-orang yang tidak faham Qur’an seperti itu. Mengambil ilmu haruslah dari orang yang sudah pasti kepahaman Qur’annya, yaitu pemimpin mereka.
Para ulama telah memahami bahwa silaturrahim adalah tali kekeluargaan/kekerabatan yang tetap harus disambung meskipun orang-tua itu kafir (yahudi, Nasrani atau musyrikin), namun ini adalah pemahaman yang dikatakan keliru, meskipun pemahaman itu adalah pemahaman para ulama salaf semisal Ibnu Hajar Al-Atsqollani, Imam An-Nawawi, Al-Qurthubi dll (lihat tulisan : “Silaturrahim”). Pemahaman ini adalah pemahaman orang kebanyakan dan merupakan pemahaman orang-orang ‘kafir’. Sebagaimana sudah disinggung di atas, bahwa para ulama salaf adalah orang-orang yang tidak faham Qur’an. Kalaupun mereka ada kefahaman tentang Qur’an juga, kefahaman mereka hanyalah cocok untuk zamannya masing-masing. Pada masa sekarang kefahaman mereka sudah pasti tidak akan cocok dengan realita yang ada.
Silaturrahim yang diartikan menyambung tali kekeluargaan atau tali kekerabatan oleh para ahli bahasa dan oleh para ulama salaf dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqh semisal Imam An-Nawawi atau al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqollani (lihat tulisan : “Silaturrahim”), dianggap tidak tepat.
Sesungguhnya para ahli bahasa, ahli hadits dan ahli fiqh Islam baik dari kalangan ulama salaf ataupun dari kalangan ulama muta’akhirin, semuanya adalah orang-orang yang tidak faham Qur’an. Mengambil ilmu tidakBOLEH
dari orang-orang yang tidak faham Qur’an seperti itu. Mengambil ilmu haruslah dari orang yang sudah pasti kepahaman Qur’annya, yaitu pemimpin mereka.Para ulama telah memahami bahwa silaturrahim adalah tali kekeluargaan/kekerabatan yang tetap harus disambung meskipun orang-tua itu kafir (yahudi, Nasrani atau musyrikin), namun ini adalah pemahaman yang dikatakan keliru, meskipun pemahaman itu adalah pemahaman para ulama salaf semisal Ibnu Hajar Al-Atsqollani, Imam An-Nawawi, Al-Qurthubi dll (lihat tulisan : “Silaturrahim”). Pemahaman ini adalah pemahaman orang kebanyakan dan merupakan pemahaman orang-orang ‘kafir’. Sebagaimana sudah disinggung di atas, bahwa para ulama salaf adalah orang-orang yang tidak faham Qur’an. Kalaupun mereka ada kefahaman tentang Qur’an juga, kefahaman mereka hanyalah cocok untuk zamannya masing-masing. Pada masa sekarang kefahaman mereka sudah pasti tidak akan cocok dengan realita yang ada.
Inna Lillaahi wa inna ilaihi rojiuun…
Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada orang-orang yang masih mempunyai i’tikad kebaikan,
Sesungguhnya segala petunjuk dan hidayah hanyalah datang dari Allah سبحانه و تعالي .
Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada orang-orang yang masih mempunyai i’tikad kebaikan,
Sesungguhnya segala petunjuk dan hidayah hanyalah datang dari Allah سبحانه و تعالي .
Sungguh, faham syubhat telah mampu membuat seseorang yang berwibawa menjadi sangat konyol
Dan sungguh, faham syubhat mampu membuat seseorang yang baik menjadi sangat jahat…
Dan sungguh, faham syubhat mampu membuat seseorang yang baik menjadi sangat jahat…
Hendaklah menjauh dari faham syubhat, agar tidak menjadi orang-orang yang konyol
Dan hendaklah menjauh dari faham syubhat, agar tidak menjadi orang-orang yang jahat…
Dan hendaklah menjauh dari faham syubhat, agar tidak menjadi orang-orang yang jahat…
للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.
Seringkali kita berputus asa tatkala mendapatkan kesulitan atau cobaan. Padahal Allah telah memberi janji bahwa di balik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat.
Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)
Mengenai ayat di atas, ada beberapa faedah yang bisa kita ambil:
Pertama: Di balik satu kesulitan, ada dua kemudahan
Kata “al ‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat Alam Nasyroh hanyalah satu. Al ‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim ma’rifah (seperti kata yang diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Jika isim ma’rifah diulang, maka kata yang kedua sama dengan kata yang pertama, terserah apakah isim ma’rifah tersebut menggunakan alif lam jinsi ataukah alif lam ‘ahdiyah.” Intinya, al ‘usr (kesulitan) pada ayat pertama sama dengan al ‘usr (kesulitan) pada ayat kedua.
Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat Alam Nasyroh itu ada dua. Yusro (kemudahan) pertama berbeda dengan yusro (kemudahan) kedua karena keduanya menggunakan isim nakiroh (seperti kata yang tidak diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Secara umum, jika isim nakiroh itu diulang, maka kata yang kedua berbeda dengan kata yang pertama.” Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena berulang.[1] Ini berarti ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan.
Dari sini, para ulama pun seringkali mengatakan, “Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.” Asal perkataan ini dari hadits yang lemah, namun maknanya benar[2]. Jadi, di balik satu kesulitan ada dua kemudahan.
Note: Mungkin sebagian orang yang belum pernah mempelajari bahasa Arab kurang paham dengan istilah di atas. Namun itulah keunggulan orang yang paham bahasa Arab, dalam memahami ayat akan berbeda dengan orang yang tidak memahaminya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaklah membekali diri dengan ilmu alat ini. Di antara manfaatnya, seseorang akan memahami Al Qur’an lebih mudah dan pemahamannya pun begitu berbeda dengan orang yang tidak paham bahasa Arab. Semoga Allah memberi kemudahan.
Kedua: Akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”[3] Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, “Badai pastilah berlalu (after a storm comes a calm), yaitu setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar.”
Ketiga: Di balik kesulitan, ada kemudahan yang begitu dekat
Dalam ayat di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob (yang berlika-liku dan sempit, pen), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.”[4] Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan sulit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan, walaupun di medan yang sesulit apapun.
Allah Ta’ala berfirman,
سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7) Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.”[5] Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.”[6]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
“Bersama kesulitan, ada kemudahan.”[7] Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini?
Rahasia Mengapa di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat
Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).”[8] Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang yang sabar dalam menghadapi setiap ketentuan-Mu. Jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang selalu bertawakkal dan bergantung pada-Mu. Amin Ya Mujibas Saa-ilin.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
-Begitu nikmat setiap hari dapat menggali faedah dari sebuah ayat. Semoga hati ini tidak lalai dari mengingat-Nya-
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Al-Faqir William mcbroto, hamba Allah
Iklan